Semarak HUT RI ke-81, Kampung Wirosaban Hidupkan Kembali Pentas Wayang Kulit

WhatsApp Image 2026-08-24 at 14.29.03

Yogyakarta — Dalam rangka menyemarakkan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 Tahun 2026, masyarakat Kampung Wirosaban menggelar pentas wayang kulit pada hari Ahad 23 Agustus 2026 pukul 19.30 WIB hingga selesai. Kegiatan ini menjadi momentum untuk menghidupkan kembali tradisi pertunjukan wayang kulit di wilayah Wirosaban yang telah sekitar 30 tahun tidak diselenggarakan.

Pentas wayang kulit tersebut dihadiri oleh Wali Kota Yogyakarta Dr. (H.C.) dr. H. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K), Mantri Pamong Praja Umbulharjo Drs. Ananto Wibowo, M.I.P., KUA Umbulharjo, tokoh masyarakat, serta warga Kampung Wirosaban. Kehadiran KUA Umbulharjo menjadi bagian dari dukungan terhadap kegiatan kemasyarakatan dan pelestarian seni budaya yang berkembang di wilayah Kemantren Umbulharjo.

Kegiatan ini turut didukung oleh pendiri JogjaKita, Ibnu Sunanto, yang memberikan dukungan terhadap penyelenggaraan pentas budaya tersebut. Pentas wayang kulit menghadirkan dalang Ki Wisnu Hadi Sugito dan mendapat antusiasme masyarakat yang hadir mengikuti pertunjukan.

Dalam sambutannya, Wali Kota Yogyakarta Dr. (H.C.) dr. H. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K) menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan budaya di Kampung Wirosaban. Menurutnya, perayaan kemerdekaan tidak cukup dimaknai hanya dalam aspek politik, tetapi juga perlu diwujudkan dalam kemandirian ekonomi dan penguatan karakter masyarakat.

“Kemerdekaan membuat kita berdaulat dalam masalah politik, tetapi kita belum sepenuhnya berdaulat dalam ekonomi,” ungkapnya.

Hasto juga memberikan apresiasi terhadap Ibnu Sunanto selaku pendiri JogjaKita yang dinilai telah berupaya membangun kemandirian melalui usaha yang dirintisnya. Menurutnya, keberadaan JogjaKita menjadi salah satu contoh semangat berdikari di tengah persaingan dengan banyak kompetitor asing.

Ia berharap semangat tersebut terus dikembangkan, termasuk dengan menghadirkan marketplace yang dapat menjadi wadah bagi produk-produk lokal. Kemandirian ekonomi, menurutnya, perlu berjalan seiring dengan penguatan identitas dan karakter masyarakat yang berlandaskan kebudayaan Nusantara.

“Kita harus memiliki karakter yang berdasar pada kebudayaan Nusantara. Kegiatan seperti ini diharapkan dapat membangun karakter masyarakat yang berbudaya,” lanjutnya.

Selain mengapresiasi pelestarian budaya melalui pentas wayang kulit, Hasto juga menyampaikan apresiasi atas upaya masyarakat di wilayah Sorosutan dalam melakukan pengelolaan sampah. Menurutnya, berbagai inisiatif masyarakat tersebut menunjukkan bahwa pembangunan kota tidak hanya bertumpu pada pemerintah, tetapi juga membutuhkan partisipasi aktif warga.

Pentas wayang kulit di Kampung Wirosaban menjadi bagian penting dalam upaya menghidupkan kembali tradisi lokal sekaligus memperkuat kebersamaan masyarakat. Setelah sekitar tiga dekade tidak digelar, kembalinya pertunjukan wayang kulit diharapkan menjadi awal bagi keberlanjutan kegiatan seni dan budaya di Wirosaban.

Momentum HUT RI ke-81 ini sekaligus menjadi pengingat bahwa kemerdekaan dapat dirayakan dengan berbagai cara, termasuk melalui pelestarian budaya, penguatan ekonomi masyarakat, kepedulian terhadap lingkungan, serta membangun karakter generasi yang berakar pada budaya Nusantara. KUA Umbulharjo turut mendukung kegiatan-kegiatan masyarakat yang memperkuat nilai keagamaan, kebudayaan, kepedulian sosial, dan kebersamaan di wilayah Kemantren Umbulharjo.(Fahmi).