Semangat Sinergi dan Religiusitas, KUA Umbulharjo Hadiri Pengajian Forkopimtren

Pengajian Forkopimtren 1

Yogyakarta (KUA Umbulharjo)– Penguatan sinergi antara pemerintah, tokoh agama, dan masyarakat terus dilakukan di Kemantren Umbulharjo. Salah satunya melalui Pengajian Rutin Forkopimtren Kemantren Umbulharjo yang digelar di Pendopo Kemantren Umbulharjo, Rabu (12/8/2026).

Kegiatan yang diikuti sekitar 70 peserta tersebut menjadi ruang silaturahmi sekaligus sarana memperkuat nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan bermasyarakat. Peserta berasal dari unsur Forkopimtren, jajaran pemerintahan, aparat kewilayahan, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta berbagai lembaga dan organisasi yang berada di wilayah Kemantren Umbulharjo.

Pengajian menghadirkan Ustaz M. Yaser Arafat, M.A. sebagai narasumber dengan tema “Sunnah Nabi dalam Laku dan Kebudayaan Jawa.” Tema tersebut mengajak peserta melihat ajaran Rasulullah SAW secara lebih luas, tidak hanya dalam praktik ibadah, tetapi juga dalam sikap, perilaku, serta kehidupan sosial dan budaya masyarakat.

Rangkaian kegiatan diawali dengan tadarus Al-Qur’an yang dipimpin oleh Ahmad Fadlan, Penyuluh Agama Islam KUA Umbulharjo. Lantunan ayat suci Al-Qur’an mengawali kegiatan dalam suasana khidmat sebelum dilanjutkan dengan sambutan dan pengajian.

Sementara itu, Siti Zulaihah, S.Pd.I., Penyuluh Agama Islam KUA Umbulharjo, dipercaya sebagai pembawa acara. Keterlibatan kedua penyuluh tersebut menjadi bagian dari kontribusi aktif KUA Umbulharjo dalam mendukung berbagai kegiatan keagamaan dan kemasyarakatan di wilayah Kemantren Umbulharjo.

Dalam kajiannya, Ustaz M. Yaser Arafat menyampaikan bahwa sunnah Nabi dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk perilaku positif. Akhlak yang baik, kesantunan, kepedulian terhadap sesama, semangat gotong royong, dan sikap menghargai orang lain merupakan bagian dari nilai yang penting untuk terus dirawat dalam kehidupan bermasyarakat.

Konteks tersebut menjadi semakin menarik ketika dikaitkan dengan kebudayaan Jawa yang kaya akan nilai kesopanan, kebersamaan, dan tata krama. Kearifan lokal yang memiliki nilai positif dapat terus dijaga dan dikembangkan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat, sepanjang selaras dengan nilai-nilai ajaran Islam.

Bagi KUA Umbulharjo, pengajian rutin Forkopimtren memiliki makna lebih dari sekadar agenda keagamaan. Kegiatan tersebut menjadi wadah untuk membangun komunikasi, mempererat silaturahmi, sekaligus memperkuat kolaborasi antarunsur yang memiliki peran dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Kepala KUA Umbulharjo beserta jajaran turut hadir dalam kegiatan tersebut. Kehadiran KUA menjadi bentuk komitmen untuk terus bersinergi dengan Forkopimtren dan berbagai elemen masyarakat dalam membangun lingkungan yang religius, harmonis, dan memiliki kepedulian sosial.

Melalui kegiatan ini, semangat “Penyuluh Bergerak dan Berdampak” kembali diwujudkan. Penyuluh Agama Islam tidak hanya hadir melalui kegiatan penyuluhan, tetapi juga mengambil peran dalam membangun ruang kebersamaan, memperkuat nilai keagamaan, dan menjalin sinergi dengan berbagai pihak.(Zul).